Saturday, November 14, 2009

Pria Sempurna

Ini kisah perjumpaan dua
orang sahabat yang
sudah puluhan tahun
terpisahkan hidupnya.
Mereka kangen-
kangenan, ngobrol ramai
sambil minum kopi
disebuah kafe. Awalnya
topik yang dibicarakan
adalah soal-soal
nostalgia zaman sekolah
dulu, namun pada
akhirnya menyangkut
kehidupan mereka
sekarang ini.
'Ngomong-ngomong,
mengapa sampai
sekarang kamu belum
juga menikah?' ujar
seorang kepada
temannya yang sampai
sekarang membujang.
'Sejujurnya sampai saat
ini saya terus mencari
pria yang sempurna.
Itulah sebabnya saya
masih melajang. Dulu di
Bandung, saya berjumpa
dengan seorang pria tampan yang amat pintar.
Saya pikir ini adalah
pria ideal yang cocok
untuk menjadi suamiku.
Namun ternyata di masa
pacaran ketahuan bahwa
ia sangat sombong.
Hubungan kami putus
sampai di situ.
'Di Jakarta, saya ketemu
seorang pria rupawan
yang ramah dan
dermawan. Pada
perjumpaan pertama,
aku kasmaran. Hatiku
berdesir kencang, inilah
pria idealku. Namun
ternyata belakangan
saya ketahui, ia banyak
tingkah dan tidak
bertanggung jawab.
'Saya terus berupaya
mencari. Namun selalu
saya temukan kelemahan
dan kekurangan pada
pria yang saya taksir.
Sampai pada suatu hari,
saya bersua pria ideal
yang selama ini saya
dambakan. Ia demikian
tampan, pintar,baik hati,
dermawan, dan suka
humor. Saya pikir, inilah
pendamping hidup yang
dikirim Tuhan.'
'Lantas,' sergah
temannya yang dari tadi
tekun mendengarkan,
'Apa yang terjadi?
Mengapa kau tidak
segera menikahinya?'
Yang ditanya diam
sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara
lirih, sang wanita
menjawab, 'Baru
belakangan aku ketahui
bahwa ia juga sedang
mencari wanita yang
sempurna.'

No comments: